Di tengah udara dingin, kabut tebal, dan lanskap pegunungan yang indah, masyarakat Dieng Kulon punya satu kekuatan yang membuat desa ini tetap hidup dan berkembang: gotong royong.
Nilai kebersamaan ini bukan hanya terlihat saat ada kerja bakti, tetapi juga hadir dalam pertanian, kegiatan budaya, pengelolaan wisata, hingga kehidupan sehari-hari warga.
Gotong royong dalam kehidupan masyarakat Dieng Kulon menjadi bagian penting dari identitas desa. Sebagai desa wisata di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Dieng Kulon tidak hanya mengandalkan Candi Arjuna, Kawah Sikidang, tradisi rambut gimbal, atau pemandangan alam.
Di balik semua daya tarik itu, ada kerja bersama masyarakat yang membuat desa ini terus bergerak. Dieng Kulon berada di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Desa ini dikenal sebagai salah satu desa wisata unggulan dan pernah masuk kategori 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021. Pengakuan tersebut tentu tidak lepas dari peran masyarakat lokal yang aktif membangun desa secara bersama-sama.
Mengenal Dieng Kulon sebagai Desa Wisata Berbasis Masyarakat
Dieng Kulon adalah salah satu desa penting di kawasan wisata Dieng. Lokasinya berada di dataran tinggi dengan suasana sejuk, kabut yang sering turun, serta panorama alam yang sangat khas.
Desa ini berbatasan dengan beberapa wilayah, termasuk Desa Dieng Wetan dan Sikunang, sehingga posisinya cukup strategis dalam jalur wisata Dieng. Sebagai desa wisata, Dieng Kulon punya banyak daya tarik.
Ada wisata sejarah seperti Kompleks Candi Arjuna, wisata alam seperti Kawah Sikidang, budaya lokal seperti tradisi rambut gimbal, serta kehidupan masyarakat pegunungan yang masih kuat dengan nilai kebersamaan.
Namun, daya tarik wisata tidak akan berjalan baik tanpa dukungan warga. Di sinilah konsep desa wisata berbasis masyarakat menjadi penting.
Pengembangan wisata di Dieng Kulon tidak hanya bertumpu pada objek wisata, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dalam mengelola, menjaga, dan memperkenalkan potensi desa.
Penelitian tentang pengembangan Desa Wisata Dieng Kulon menyebut desa ini telah dikategorikan sebagai desa wisata maju yang menerapkan pendekatan Community Based Tourism atau CBT.
Pendekatan ini melihat pengembangan pariwisata dari dimensi ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan politik.
Artinya, masyarakat bukan hanya menjadi penonton. Mereka ikut menjadi pelaku utama dalam perkembangan desa wisata.
Makna Gotong Royong bagi Masyarakat Dieng Kulon
Gotong royong bagi masyarakat Dieng Kulon bukan sekadar kegiatan fisik bersama-sama. Lebih dari itu, gotong royong adalah cara hidup.
Nilai ini membuat warga merasa saling terhubung, saling membutuhkan, dan saling membantu dalam berbagai situasi.
Di desa pegunungan seperti Dieng Kulon, hidup tidak selalu mudah. Cuaca dingin, kondisi lahan yang menantang, aktivitas pertanian, hingga kebutuhan menjaga lingkungan menuntut warga untuk saling bekerja sama.
Gotong royong membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan. Ketika ada kegiatan desa, acara budaya, perbaikan lingkungan, atau kebutuhan sosial, warga bisa bergerak bersama.
Inilah yang membuat kehidupan desa terasa hangat meskipun udaranya dingin.
Nilai ini juga menjaga hubungan sosial tetap kuat. Orang tidak hanya mengenal tetangga sebagai orang yang tinggal bersebelahan, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang bisa saling membantu saat dibutuhkan.
Dalam konteks desa wisata, gotong royong menjadi modal sosial yang sangat penting. Tanpa kebersamaan warga, sulit bagi Dieng Kulon untuk menjaga kebersihan, pelayanan, budaya, dan kenyamanan wisatawan.
Gotong Royong dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, gotong royong masyarakat Dieng Kulon bisa terlihat dari banyak hal sederhana.
Misalnya saat warga membantu tetangga yang punya hajatan, membersihkan lingkungan, memperbaiki akses jalan kecil, atau ikut terlibat dalam kegiatan desa.
Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat biasa bagi masyarakat desa. Namun, justru dari hal-hal kecil itulah rasa kebersamaan terbentuk. Warga menjadi terbiasa untuk tidak hidup terlalu individual.
Gotong royong juga muncul dalam kegiatan sosial seperti pertemuan warga, musyawarah desa, kegiatan keagamaan, hingga program pemberdayaan keluarga.
Misalnya, TP-PKK Desa Dieng Kulon menggelar pertemuan rutin pada awal 2026 dengan semangat gotong royong untuk menyiapkan program kesehatan dan ekonomi masyarakat.
Kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa gotong royong tidak hanya dilakukan oleh laki-laki atau kelompok tertentu. Perempuan, pemuda, orang tua, tokoh masyarakat, dan perangkat desa semuanya punya ruang untuk ikut berperan.
Dari sinilah terlihat bahwa gotong royong bukan nilai yang kaku. Ia bisa hadir dalam banyak bentuk, mulai dari kerja fisik, ide, waktu, tenaga, sampai dukungan sosial.
Gotong Royong dalam Pertanian Dataran Tinggi
Dieng Kulon sejak lama dikenal sebagai kawasan pertanian dataran tinggi. Kentang, sayuran, dan berbagai tanaman dataran tinggi menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Bertani di kawasan pegunungan tidak selalu mudah. Lahan miring, cuaca dingin, kabut, curah hujan, dan perubahan musim menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, kerja sama antarwarga menjadi hal yang sangat penting.
Dalam kehidupan agraris, gotong royong bisa muncul saat membuka lahan, merawat saluran air, memperbaiki akses menuju kebun, atau membantu tetangga ketika masa tanam dan panen.
Meski sistem pertanian modern mulai berkembang, semangat saling bantu tetap menjadi bagian dari kehidupan warga.
Pertanian juga menjadi salah satu wajah khas Dieng Kulon. Hamparan ladang di sekitar desa bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari lanskap wisata yang sering menarik perhatian pengunjung.
Namun, pertanian di dataran tinggi juga punya tantangan lingkungan. Karena itu, gotong royong dibutuhkan bukan hanya untuk meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga tanah, air, dan alam sekitar agar tetap lestari.
Jika pertanian dijaga dengan baik, masyarakat tetap bisa memperoleh penghidupan, sementara desa wisata tetap memiliki lanskap alami yang menarik.
Gotong Royong dalam Pelestarian Budaya Dieng
Selain pertanian, budaya adalah kekuatan besar Dieng Kulon. Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah ruwatan rambut gimbal, yang sering menjadi bagian penting dalam Dieng Culture Festival.
Tradisi budaya seperti ini tidak bisa berjalan hanya oleh satu orang. Dibutuhkan banyak pihak untuk menyiapkan acara, menjaga tata cara adat, mengatur peserta, menyambut wisatawan, dan memastikan prosesi tetap berjalan dengan hormat.
Dieng Culture Festival sendiri menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan seperti kirab budaya, pertunjukan seni, musik, doa bersama, penerbangan lentera, dan ritual cukur rambut anak gimbal.
Festival ini menunjukkan bagaimana budaya lokal bisa dirawat sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Gotong royong dalam budaya bukan hanya soal menyiapkan acara. Lebih dalam dari itu, gotong royong berarti menjaga warisan leluhur agar tidak hilang.
Tokoh adat, seniman lokal, orang tua, pemuda, dan warga desa punya peran masing-masing. Ada yang menjaga cerita, ada yang melatih kesenian, ada yang menyiapkan perlengkapan, dan ada yang membantu pelaksanaan di lapangan.
Dengan cara seperti ini, budaya tidak hanya menjadi tontonan wisata. Budaya tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Gotong Royong dalam Pengembangan Desa Wisata
Perkembangan Dieng Kulon sebagai desa wisata sangat erat dengan kerja bersama masyarakat. Wisata tidak akan berjalan baik jika hanya mengandalkan pemerintah desa atau pengelola tertentu. Semua unsur masyarakat perlu ikut terlibat.
Warga bisa berperan sebagai pemilik homestay, pedagang kuliner, pemandu wisata, pelaku UMKM, petani yang membuka wisata edukasi, pengelola parkir, seniman, hingga penjaga kebersihan lingkungan.
Jadesta mencatat Desa Wisata Dieng Kulon memiliki berbagai daya tarik dan fasilitas seperti atraksi wisata, kuliner, kios suvenir, area parkir, spot foto, serta fasilitas umum lain yang mendukung kunjungan wisatawan.
Semua fasilitas itu membutuhkan pengelolaan. Ada yang harus menjaga kebersihan, memberi informasi kepada wisatawan, memastikan pelayanan ramah, dan menjaga agar kegiatan wisata tidak mengganggu kehidupan warga.
Gotong royong membuat manfaat wisata bisa dirasakan lebih luas. Ketika wisata berkembang, peluang ekonomi tidak hanya jatuh ke satu kelompok, tetapi bisa menyebar ke banyak warga.
Inilah kelebihan desa wisata berbasis masyarakat. Wisata menjadi milik bersama, bukan hanya milik investor atau pengelola tertentu.
Musyawarah Desa sebagai Bentuk Gotong Royong Pikiran
Gotong royong tidak selalu berarti membawa cangkul, sapu, atau alat kerja. Dalam pembangunan desa, gotong royong juga bisa berbentuk musyawarah, ide, masukan, dan keputusan bersama.
Musyawarah desa menjadi ruang penting bagi warga untuk menyampaikan aspirasi. Melalui forum seperti ini, masyarakat bisa ikut menentukan arah pembangunan desa, termasuk sektor wisata, lingkungan, ekonomi, dan budaya.
Pemerintah Desa Dieng Kulon pernah mengajak warga untuk aktif berpartisipasi dalam Musrenbangdes 2026, baik melalui musyawarah dusun maupun forum utama.
Dalam ajakan tersebut, pemerintah desa menekankan semangat gotong royong untuk mewujudkan Dieng Kulon sebagai desa mandiri, sejahtera, hijau, dan berbudaya.
Ini menunjukkan bahwa gotong royong di Dieng Kulon juga hidup dalam bentuk partisipasi publik. Warga tidak hanya diminta mengikuti keputusan, tetapi juga diajak memberi suara.
Dalam desa wisata, partisipasi seperti ini sangat penting. Karena yang paling memahami kebutuhan desa adalah masyarakatnya sendiri.
Dengan musyawarah, pembangunan bisa lebih sesuai dengan kondisi lokal dan tidak merusak karakter desa.
Gotong Royong dalam Kesiapsiagaan Bencana
Dieng adalah kawasan dataran tinggi yang memiliki karakter geologis khas. Kawasan ini dekat dengan aktivitas vulkanik, kawah, serta kondisi alam yang perlu diwaspadai. Karena itu, gotong royong juga penting dalam kesiapsiagaan bencana.
Pada 2024, Desa Dieng Kulon membentuk dan melatih relawan Desa Tangguh Bencana atau Destana.
Program ini dilakukan secara kolaboratif antara Pemerintah Desa, Pemerintah Daerah, dan BPBD Banjarnegara, dengan fokus pada mitigasi risiko bencana vulkanik dan geologis yang menjadi ciri khas Dieng.
Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa gotong royong tidak hanya berkaitan dengan tradisi atau ekonomi, tetapi juga keselamatan bersama.
Relawan desa memiliki peran penting dalam memberikan informasi, membantu evakuasi, meningkatkan kesadaran warga, dan mendukung kesiapsiagaan saat terjadi situasi darurat.
Dalam konteks wisata, kesiapsiagaan bencana juga penting untuk memberi rasa aman kepada pengunjung. Desa wisata yang baik bukan hanya indah dan ramah, tetapi juga siap menghadapi risiko.
Dengan gotong royong, masyarakat bisa lebih tangguh menghadapi kondisi alam yang tidak selalu bisa diprediksi.
Peran Perempuan dan Pemuda dalam Gotong Royong Desa
Gotong royong di Dieng Kulon tidak hanya digerakkan oleh tokoh formal atau orang tua. Perempuan dan pemuda juga punya peran besar dalam kehidupan sosial desa.
Perempuan, misalnya, aktif dalam kegiatan PKK, pemberdayaan keluarga, kesehatan, ekonomi rumah tangga, dan pengembangan produk lokal. Mereka ikut menjaga kualitas kehidupan masyarakat dari lingkup keluarga sampai desa.
Pemuda juga memiliki peran penting, terutama dalam promosi digital, kreativitas wisata, kegiatan budaya, dokumentasi acara, dan inovasi UMKM.
Di era media sosial, pemuda bisa membantu memperkenalkan Dieng Kulon ke audiens yang lebih luas.
Peran ini membuat gotong royong terasa lebih segar. Generasi tua menjaga nilai, tradisi, dan pengalaman. Generasi muda membawa kreativitas, teknologi, dan cara baru untuk mengembangkan desa.
Jika keduanya berjalan bersama, Dieng Kulon bisa berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Tantangan Menjaga Gotong Royong di Era Wisata Modern
Meski gotong royong masih kuat, tantangannya tetap ada. Ketika pariwisata semakin berkembang, pola hidup masyarakat bisa berubah. Kesibukan usaha, persaingan ekonomi, dan masuknya budaya luar bisa memengaruhi hubungan sosial.
Tantangan lainnya adalah pemerataan manfaat wisata. Jika hanya sebagian warga yang mendapat keuntungan, rasa kebersamaan bisa melemah. Karena itu, pengelolaan desa wisata harus dibuat seadil mungkin.
Lingkungan juga menjadi tantangan besar. Semakin banyak wisatawan, semakin besar pula risiko sampah, kemacetan, dan tekanan terhadap ruang desa. Gotong royong dibutuhkan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan bersama.
Selain itu, generasi muda perlu terus diajak memahami pentingnya nilai kebersamaan. Jangan sampai gotong royong hanya dianggap tradisi lama yang tidak relevan.
Padahal, dalam desa wisata modern, gotong royong justru semakin penting. Tanpa kerja bersama, desa bisa kehilangan kualitas, budaya, dan daya tariknya.
Gotong Royong sebagai Modal Desa Wisata Berkelanjutan
Desa wisata berkelanjutan tidak hanya bicara tentang jumlah pengunjung. Yang lebih penting adalah bagaimana wisata memberi manfaat bagi warga, menjaga lingkungan, dan tetap menghormati budaya lokal.
Gotong royong menjadi modal utama untuk mencapai itu. Dengan gotong royong, masyarakat bisa bersama-sama menjaga kebersihan, memperbaiki fasilitas, melestarikan budaya, mengelola acara, dan menyambut wisatawan dengan ramah.
Penelitian tentang Community Based Tourism di Dieng Kulon menunjukkan bahwa pariwisata membuat masyarakat lebih percaya diri dalam memperkenalkan budaya dan produk lokal, termasuk UMKM seperti carica yang menjadi makanan khas kawasan Dieng.
Ini menjadi bukti bahwa ketika masyarakat terlibat, wisata bisa memberi dampak sosial yang positif. Warga tidak hanya memperoleh penghasilan, tetapi juga merasa bangga terhadap identitas desanya.
Ke depan, gotong royong bisa menjadi kunci agar Dieng Kulon tetap kuat sebagai desa wisata. Bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi juga nyaman ditinggali dan lestari untuk generasi berikutnya.
Gotong royong dalam kehidupan masyarakat Dieng Kulon adalah fondasi penting yang membuat desa ini terus berkembang.
Nilai kebersamaan hadir dalam pertanian, pelestarian budaya, pengelolaan wisata, musyawarah desa, kegiatan sosial, hingga kesiapsiagaan bencana.
Sebagai desa wisata, Dieng Kulon tidak hanya mengandalkan keindahan alam dan warisan budaya. Kekuatan utamanya justru ada pada masyarakat yang mau bergerak bersama.
Dari warga, pemuda, perempuan, petani, pelaku UMKM, sampai tokoh desa, semuanya punya peran dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.
Kalau kamu berkunjung ke Dieng Kulon, nikmatilah bukan hanya pemandangannya. Hargai juga masyarakatnya, dukung produk lokal, jaga kebersihan, dan hormati budaya setempat.
Dengan begitu, kamu ikut menjadi bagian kecil dari semangat gotong royong yang menjaga Dieng Kulon tetap hidup.
FAQ
1. Apa bentuk gotong royong di Dieng Kulon?
Bentuk gotong royong di Dieng Kulon terlihat dalam kerja bakti, pertanian, kegiatan budaya, pengelolaan wisata, musyawarah desa, kegiatan PKK, hingga kesiapsiagaan bencana.
2. Mengapa gotong royong penting bagi Desa Wisata Dieng Kulon?
Gotong royong penting karena pengembangan desa wisata membutuhkan keterlibatan masyarakat. Tanpa kerja bersama, wisata sulit dikelola secara nyaman, bersih, dan berkelanjutan.
3. Bagaimana gotong royong mendukung pariwisata Dieng Kulon?
Gotong royong membantu warga mengelola homestay, kuliner, budaya, kebersihan, acara wisata, UMKM, dan pelayanan kepada pengunjung.
4. Apa hubungan gotong royong dengan budaya Dieng?
Gotong royong membantu menjaga tradisi lokal seperti ruwatan rambut gimbal, kirab budaya, dan kegiatan adat agar tetap hidup serta dikenal oleh generasi muda.
5. Apa tantangan gotong royong di era wisata modern?
Tantangannya adalah perubahan gaya hidup, persaingan ekonomi, sampah wisata, kepadatan pengunjung, dan risiko memudarnya nilai kebersamaan jika tidak terus dijaga.